Lompat ke isi utama
Berita
Gotong royong juga tidak dapat dipisahkan dari tradisi musyawarah yang telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ketika warga berkumpul untuk menentukan kegiatan lingkungan, membahas persoalan fasilitas umum, atau menyelesaikan masalah sosial, mereka membutuhkan ruang untuk menyampaikan pendapat dan mendengarkan pandangan orang lain. Tidak semua orang akan memiliki gagasan yang sama, tetapi keputusan bersama dapat dicapai ketika setiap pihak bersedia mencari jalan keluar yang dapat diterima.
humas
Dari Gotong Royong ke Demokrasi: Nilai-Nilai yang Membuat Indonesia Tetap BerdiriPRABUMULIH 11/8/2026— Ada banyak cara untuk melihat Indonesia.
Pemilih yang memiliki kesadaran politik tidak akan menentukan pilihan hanya karena sebuah informasi sedang viral. Ia akan mempertanyakan sumbernya, melihat konteksnya, membandingkannya dengan informasi lain, dan mempertimbangkan apakah informasi tersebut memang relevan dengan keputusan politik yang akan diambil. Sikap semacam ini merupakan bagian dari literasi politik yang perlu terus dibangun, terutama ketika masyarakat hidup dalam lingkungan informasi yang bergerak sangat cepat.
humas
Sebelum Menjadi Pemilih, Jadilah Warga Negara: Mengapa Kesadaran Politik Harus Dibangun Sejak Dini?PRABUMULIH 10/8/2026— Politik sering kali terasa jauh bagi sebagian masyarakat.
Kedewasaan politik justru terlihat setelah hasil diketahui. Ketika seseorang mampu menerima kemenangan pihak lain tanpa kehilangan sikap kritis, atau menerima kekalahan tanpa menyebarkan kebencian dan informasi yang tidak benar, di situlah demokrasi menunjukkan kualitasnya. Masyarakat tidak dituntut untuk berhenti mengkritik setelah pemilu selesai, tetapi kritik harus tetap ditempatkan dalam koridor hukum dan kepentingan bersama.
humas
Berbeda Pilihan, Tetap Satu Tujuan: Mengapa Demokrasi Membutuhkan Kedewasaan dalam Menyikapi Perbedaan? 
Besarnya peran generasi muda dalam demokrasi bukan sekadar asumsi. Data KPU menunjukkan bahwa pada Pemilu 2024, pemilih dari kelompok Milenial mencapai sekitar 33,6 persen, sedangkan Gen Z sekitar 22,85 persen. Jika kedua kelompok tersebut digabungkan, jumlahnya mencapai sekitar 56,45 persen dari keseluruhan pemilih. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa suara generasi muda bukan lagi kelompok kecil yang hanya melengkapi jumlah pemilih, melainkan bagian penting yang dapat memengaruhi arah politik nasional. K
humas
Anak Muda Bukan Sekadar Pemilih Masa Depan: Mereka adalah Penentu Wajah Demokrasi Hari IniPRABUMULIH 8/8/2026— Ketika membicarakan masa depan demokrasi Indonesia, perhatian sering kali diarahkan kepada