Lompat ke isi utama

Berita

Sebelum Menjadi Pemilih, Jadilah Warga Negara: Mengapa Kesadaran Politik Harus Dibangun Sejak Dini?

Pemilih yang memiliki kesadaran politik tidak akan menentukan pilihan hanya karena sebuah informasi sedang viral. Ia akan mempertanyakan sumbernya, melihat konteksnya, membandingkannya dengan informasi lain, dan mempertimbangkan apakah informasi tersebut memang relevan dengan keputusan politik yang akan diambil. Sikap semacam ini merupakan bagian dari literasi politik yang perlu terus dibangun, terutama ketika masyarakat hidup dalam lingkungan informasi yang bergerak sangat cepat.

Pemilih yang memiliki kesadaran politik tidak akan menentukan pilihan hanya karena sebuah informasi sedang viral. Ia akan mempertanyakan sumbernya, melihat konteksnya, membandingkannya dengan informasi lain, dan mempertimbangkan apakah informasi tersebut memang relevan dengan keputusan politik yang akan diambil. Sikap semacam ini merupakan bagian dari literasi politik yang perlu terus dibangun, terutama ketika masyarakat hidup dalam lingkungan informasi yang bergerak sangat cepat.

Sebelum Menjadi Pemilih, Jadilah Warga Negara: Mengapa Kesadaran Politik Harus Dibangun Sejak Dini?

PRABUMULIH 10/8/2026— Politik sering kali terasa jauh bagi sebagian masyarakat. Ia identik dengan partai politik, calon kepala daerah, anggota legislatif, kampanye, debat, dan pemungutan suara yang berlangsung setiap beberapa tahun. Tidak sedikit pula yang menganggap politik sebagai urusan para elite, sementara masyarakat cukup datang ke tempat pemungutan suara ketika waktunya tiba. Padahal, jika dipahami lebih luas, politik berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kebijakan mengenai pendidikan, kesehatan, pekerjaan, transportasi, pembangunan, pelayanan publik, hingga pengelolaan lingkungan merupakan bagian dari keputusan yang lahir dari proses politik dan pada akhirnya berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Kesadaran politik karena itu tidak seharusnya baru muncul ketika tahapan pemilu dimulai. Warga negara perlu memahami sejak dini bahwa mereka memiliki hak sekaligus tanggung jawab dalam menentukan arah kehidupan bersama. Memilih dalam pemilu memang merupakan salah satu bentuk partisipasi politik yang paling nyata, tetapi partisipasi tidak berhenti ketika surat suara dimasukkan ke dalam kotak suara. Masyarakat juga memiliki peran untuk memahami persoalan di sekitarnya, mengikuti perkembangan kebijakan publik, menyampaikan aspirasi, mengawasi penyelenggaraan pemerintahan, serta memastikan bahwa kebebasan yang dimiliki digunakan secara bertanggung jawab.

Politik Ada di Sekitar Kita

Kesadaran politik sering kali sulit tumbuh karena politik dipahami terlalu sempit. Ketika politik hanya dilihat sebagai perebutan jabatan atau persaingan antarpartai, masyarakat dapat merasa bahwa politik tidak berkaitan dengan kehidupan mereka. Padahal, keputusan yang dibuat oleh pemerintah dan lembaga perwakilan memiliki konsekuensi langsung terhadap masyarakat. Ketika anggaran pendidikan ditetapkan, fasilitas kesehatan dibangun, jalan diperbaiki, pelayanan administrasi ditingkatkan, atau kebijakan ekonomi disusun, semuanya berkaitan dengan bagaimana kepentingan masyarakat dirumuskan dan diputuskan dalam sistem pemerintahan.

Karena itu, menjadi warga negara yang sadar politik tidak berarti seseorang harus menguasai seluruh teori politik atau mengikuti setiap perkembangan partai. Kesadaran politik dapat dimulai dari hal yang lebih sederhana, yakni mengetahui apa yang terjadi di lingkungan sekitar dan memahami bagaimana keputusan publik memengaruhi kehidupan masyarakat. Warga yang mengetahui haknya akan lebih mampu menyampaikan aspirasi, sementara warga yang memahami kewajibannya akan lebih menyadari pentingnya menaati aturan dan menghormati hak orang lain.

Kesadaran tersebut menjadi semakin penting dalam kehidupan demokrasi karena masyarakat bukan hanya objek dari kebijakan publik. Dalam sistem demokrasi, masyarakat merupakan bagian dari sumber legitimasi kekuasaan. Pilihan masyarakat melalui pemilu memberikan mandat kepada mereka yang terpilih untuk menjalankan pemerintahan dan membuat kebijakan. Karena itu, masyarakat memiliki hak untuk mengetahui bagaimana mandat tersebut dijalankan dan memiliki ruang untuk memberikan penilaian terhadap kinerja mereka yang memperoleh kepercayaan.

Menjadi Pemilih Membutuhkan Persiapan

Ketika pemilu semakin dekat, masyarakat biasanya mulai disibukkan dengan informasi mengenai calon dan peserta pemilu. Nama-nama mulai muncul di berbagai media, program mulai diperkenalkan, dan masyarakat mulai menentukan pilihan. Namun, keputusan politik yang baik seharusnya tidak dibentuk hanya dalam waktu singkat. Pemilih membutuhkan kesempatan untuk mengenali calon, mempelajari gagasan yang ditawarkan, melihat rekam jejak, serta membandingkannya dengan kebutuhan masyarakat.

Hal tersebut menjadi semakin penting karena perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi politik. Dahulu masyarakat mungkin mendapatkan informasi terutama melalui pertemuan tatap muka, surat kabar, radio, atau televisi. Sekarang, informasi politik dapat muncul di layar telepon dalam berbagai bentuk, mulai dari video pendek, unggahan media sosial, podcast, komentar warganet, hingga pesan yang diteruskan melalui aplikasi percakapan. Banyaknya sumber informasi memang memberikan pilihan yang lebih luas, tetapi pada saat yang sama membuat masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menentukan mana informasi yang dapat dipercaya.

Pemilih yang memiliki kesadaran politik tidak akan menentukan pilihan hanya karena sebuah informasi sedang viral. Ia akan mempertanyakan sumbernya, melihat konteksnya, membandingkannya dengan informasi lain, dan mempertimbangkan apakah informasi tersebut memang relevan dengan keputusan politik yang akan diambil. Sikap semacam ini merupakan bagian dari literasi politik yang perlu terus dibangun, terutama ketika masyarakat hidup dalam lingkungan informasi yang bergerak sangat cepat.

Jangan Menyerahkan Pilihan kepada Algoritma

Ada tantangan baru yang mungkin tidak terlalu dirasakan oleh generasi sebelumnya. Saat ini, sebagian masyarakat memperoleh informasi berdasarkan apa yang direkomendasikan oleh algoritma platform digital. Konten yang sering dilihat akan memunculkan konten serupa, sehingga seseorang dapat berada dalam lingkungan informasi yang semakin lama semakin sesuai dengan pandangan yang telah dimilikinya.

Kondisi tersebut dapat memberikan kenyamanan, tetapi juga memiliki risiko. Seseorang dapat merasa bahwa pendapatnya merupakan pendapat mayoritas hanya karena hampir semua informasi yang muncul di layar mendukung pandangannya. Sebaliknya, ketika bertemu dengan pandangan berbeda, ia dapat menganggapnya sebagai sesuatu yang salah atau bahkan sebagai ancaman. Jika keadaan tersebut terjadi dalam politik, ruang demokrasi dapat berubah menjadi ruang yang dipenuhi kelompok-kelompok yang saling berbicara tetapi tidak benar-benar saling mendengarkan.

Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk mencari informasi dari berbagai sumber dan tidak menjadikan satu platform sebagai satu-satunya rujukan. Sikap kritis bukan berarti mencurigai semua informasi, tetapi memastikan bahwa keputusan yang dibuat memiliki dasar yang cukup. Dalam konteks pemilu, kebiasaan tersebut dapat membantu masyarakat terhindar dari hoaks, disinformasi, manipulasi informasi, maupun propaganda yang sengaja dirancang untuk memengaruhi pilihan politik.

Kesadaran Politik Tidak Sama dengan Fanatisme

Menarik perhatian masyarakat terhadap politik tidak berarti mendorong mereka menjadi fanatik terhadap kelompok tertentu. Justru kesadaran politik yang sehat seharusnya membuat seseorang mampu mempertahankan pilihan sekaligus menghormati orang yang memiliki pilihan berbeda. Seorang warga negara dapat mendukung calon tertentu karena mempertimbangkan program dan rekam jejaknya, tetapi pada saat yang sama tetap mengakui bahwa orang lain memiliki hak untuk memilih calon yang berbeda.

Fanatisme politik menjadi persoalan ketika pilihan politik mulai menghilangkan kemampuan seseorang untuk melihat fakta secara objektif. Kesalahan yang dilakukan oleh pihak yang didukung dianggap selalu dapat dibenarkan, sementara kesalahan pihak lain dianggap sebagai bukti bahwa seluruh kelompok tersebut buruk. Cara berpikir semacam ini tidak membantu demokrasi berkembang karena masyarakat akhirnya lebih sibuk mempertahankan identitas kelompok daripada menilai gagasan dan kinerja secara rasional.

Kesadaran politik yang matang justru memberikan ruang bagi seseorang untuk mengatakan bahwa kandidat yang didukungnya memiliki kekurangan dan bahwa kandidat yang berbeda pilihan dengannya mungkin memiliki gagasan yang baik. Sikap seperti itu bukan tanda lemahnya pendirian, melainkan menunjukkan bahwa pilihan politik dibangun berdasarkan pertimbangan, bukan semata-mata loyalitas kelompok.

Dari Pemilih Menjadi Pengawas

Kesadaran politik juga berkaitan erat dengan kemampuan masyarakat menjalankan fungsi pengawasan. Setelah menentukan pilihan, warga negara tidak kehilangan perannya. Mereka tetap memiliki kepentingan untuk memastikan bahwa proses demokrasi berlangsung sesuai dengan ketentuan dan bahwa hak politik masyarakat tidak disalahgunakan.

Dalam konteks pemilu, masyarakat dapat mengambil bagian dalam pengawasan partisipatif dengan mengenali bentuk-bentuk pelanggaran, menolak politik uang, tidak ikut menyebarkan informasi yang menyesatkan, serta melaporkan dugaan pelanggaran melalui mekanisme yang tersedia. Peran tersebut penting karena pengawasan pemilu tidak mungkin sepenuhnya dibebankan kepada lembaga pengawas. Semakin banyak masyarakat yang memahami apa yang harus diawasi dan bagaimana menyampaikan informasi, semakin kuat pula ekosistem pengawasan demokrasi.

Bawaslu selama ini mendorong pengawasan partisipatif sebagai salah satu bentuk keterlibatan masyarakat dalam menjaga integritas pemilu. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat bukan hanya pihak yang diawasi atau penerima informasi, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menjaga proses demokrasi. Di tingkat daerah, keterlibatan masyarakat Prabumulih juga dapat terus diperkuat melalui pendidikan kepemiluan, diskusi publik, komunitas, organisasi masyarakat, kelompok pemuda, dan berbagai ruang sosial lainnya.

Politik Tidak Berakhir Setelah Pemungutan Suara

Salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa tugas warga negara dalam demokrasi selesai setelah memberikan suara. Pemungutan suara memang merupakan momentum penting, tetapi demokrasi berlangsung jauh lebih panjang daripada satu hari di tempat pemungutan suara. Setelah pemimpin terpilih, masyarakat tetap memiliki hak untuk mengetahui bagaimana kebijakan dijalankan, bagaimana pelayanan publik diberikan, dan bagaimana kepentingan masyarakat diperjuangkan.

Masyarakat yang memiliki kesadaran politik akan memahami bahwa partisipasi setelah pemilu sama pentingnya dengan partisipasi sebelum pemilu. Mereka dapat mengikuti perkembangan kebijakan, menghadiri forum musyawarah, menyampaikan aspirasi, mengkritisi pelayanan publik, dan menggunakan jalur yang tersedia ketika menemukan persoalan. Dengan cara tersebut, hubungan antara masyarakat dan pemerintah tidak berhenti pada pemberian suara, tetapi berlanjut menjadi hubungan antara pemegang mandat dan pihak yang menerima mandat.

Demokrasi akan lebih sehat apabila masyarakat tidak hanya aktif ketika membutuhkan sesuatu, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap bagaimana kepentingan bersama dikelola. Warga negara tidak harus selalu berada di jalan atau ruang demonstrasi untuk disebut aktif secara politik. Mengikuti rapat lingkungan, memberikan masukan dalam forum publik, mengawasi penggunaan fasilitas publik, dan mengajak masyarakat memahami persoalan bersama juga merupakan bagian dari partisipasi kewargaan.

Pendidikan Politik Dimulai dari Lingkungan Terdekat

Kesadaran politik tidak selalu harus dibangun melalui program besar. Keluarga, sekolah, kampus, organisasi pemuda, lingkungan kerja, dan komunitas memiliki peran penting dalam membentuk cara seseorang memahami demokrasi. Ketika anak-anak dan generasi muda terbiasa mendengarkan pendapat yang berbeda, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, menerima keputusan bersama, serta memahami alasan di balik sebuah keputusan, mereka sebenarnya sedang belajar tentang prinsip-prinsip demokrasi.

Karena itu, pendidikan politik tidak seharusnya hanya berbicara tentang siapa yang harus dipilih. Pendidikan politik yang sehat justru membantu masyarakat memahami bagaimana sebuah sistem bekerja dan bagaimana mereka dapat berpartisipasi di dalamnya. Masyarakat perlu diajak memahami hak pilih, kewajiban sebagai warga negara, pentingnya informasi yang benar, bahaya politik uang, pentingnya menghormati perbedaan, serta mekanisme yang dapat digunakan apabila menemukan persoalan.

Pendekatan tersebut penting untuk dilakukan jauh sebelum tahapan pemilu berlangsung. Jika pendidikan politik hanya dilakukan menjelang hari pemungutan suara, masyarakat berisiko menerima terlalu banyak informasi dalam waktu yang singkat dan sulit membedakan mana edukasi, mana kampanye, dan mana propaganda. Sebaliknya, pendidikan yang dilakukan secara berkelanjutan akan memberikan kesempatan kepada warga untuk membangun pemahaman secara bertahap.

Prabumulih Membutuhkan Warga yang Peduli

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, warga Kota Prabumulih memiliki ruang yang sama untuk ikut menentukan kualitas kehidupan demokrasi di daerahnya. Kesadaran politik dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat. Warga dapat mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah daerah, memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, menyampaikan aspirasi melalui saluran yang tersedia, dan ikut menjaga agar ruang publik tetap sehat.

Keterlibatan tersebut tidak harus selalu berbentuk aktivitas politik formal. Seorang pemuda yang mengedukasi teman-temannya mengenai bahaya hoaks, mahasiswa yang melakukan diskusi mengenai kebijakan publik, komunitas yang mendorong transparansi, atau warga yang melaporkan dugaan pelanggaran pemilu merupakan contoh bahwa partisipasi politik dapat hadir dalam berbagai bentuk.

Bagi Bawaslu Kota Prabumulih, membangun kesadaran seperti ini merupakan bagian dari pekerjaan jangka panjang dalam memperkuat pengawasan partisipatif. Masyarakat yang memahami hak dan kewajibannya akan lebih siap mengawasi proses demokrasi, sementara masyarakat yang memiliki literasi politik yang baik akan lebih sulit dipengaruhi oleh informasi yang menyesatkan. Pada akhirnya, pengawasan tidak hanya menjadi aktivitas kelembagaan, tetapi berkembang menjadi budaya bersama.

Menjadi Warga Negara Sebelum Menjadi Pemilih

Pemilu membutuhkan pemilih yang datang ke TPS, tetapi demokrasi membutuhkan sesuatu yang lebih besar: warga negara yang memiliki kesadaran terhadap kehidupan bersama. Seorang pemilih mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk memberikan suara, tetapi keputusan yang dibuat pada saat itu dapat berpengaruh selama bertahun-tahun. Karena itu, kualitas pilihan tidak dapat dipisahkan dari kualitas pengetahuan dan kesadaran politik yang dimiliki sebelum seseorang masuk ke bilik suara.

Menjadi warga negara yang sadar politik berarti memahami bahwa setiap hak selalu memiliki tanggung jawab. Kebebasan memilih harus disertai kesediaan menghormati pilihan orang lain. Kebebasan berbicara harus diiringi tanggung jawab menggunakan informasi secara benar. Hak untuk mengkritik harus disertai kesediaan mendengarkan penjelasan, sementara hak untuk memperoleh pelayanan publik harus berjalan bersama kewajiban menaati aturan.

Kesadaran seperti inilah yang perlu terus dibangun menjelang masa depan demokrasi Indonesia. Pemilu 2029 memang masih berada di depan, tetapi kualitas pemilih dan budaya demokrasi tidak dibentuk dalam satu tahapan pemilu. Ia dibangun dari kebiasaan sehari-hari, dari cara masyarakat berdiskusi, dari bagaimana seseorang memperlakukan orang yang berbeda pendapat, dan dari keberanian warga untuk peduli terhadap persoalan di sekitarnya.

Pada akhirnya, menjadi pemilih hanyalah salah satu bentuk dari menjadi warga negara. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang tidak hanya datang ketika diminta memilih, tetapi juga hadir ketika kehidupan bersama membutuhkan kepedulian, pengawasan, dan keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Sebelum menentukan siapa yang akan dipilih, masyarakat perlu terlebih dahulu memahami untuk apa pilihan itu diberikan dan tanggung jawab apa yang menyertainya. Sebab, demokrasi yang kuat tidak lahir hanya dari banyaknya orang yang menggunakan hak pilih, tetapi dari warga negara yang memahami nilai, hak, dan tanggung jawab di balik pilihan tersebut. [fr]

 

 

fr