Lompat ke isi utama

Berita

Gerak yang Menyatukan, Demokrasi yang Dikuatkan: Catatan Bawaslu Prabumulih di Hari Tari Sedunia 2026

Dalam setiap gerak tari, tidak ada keseragaman yang dipaksakan. Yang ada justru perbedaan yang dirangkai menjadi harmoni. Demokrasi pun demikian. Ia tidak dibangun dari suara yang sama, melainkan dari keragaman yang dikelola dengan kesadaran dan kedewasaan.

Dalam setiap gerak tari, tidak ada keseragaman yang dipaksakan. Yang ada justru perbedaan yang dirangkai menjadi harmoni. Demokrasi pun demikian. Ia tidak dibangun dari suara yang sama, melainkan dari keragaman yang dikelola dengan kesadaran dan kedewasaan.

Gerak yang Menyatukan, Demokrasi yang Dikuatkan: Catatan Bawaslu Prabumulih di Hari Tari Sedunia 2026

Prabumulih 29/4/2026 — Tanggal 29 April kembali datang sebagai pengingat: dunia pernah sepakat bahwa tari bukan sekadar seni, melainkan bahasa universal yang melampaui batas. Melalui inisiatif International Theatre Institute bersama UNESCO sejak 1982, Hari Tari Sedunia diletakkan sebagai ruang refleksi global—tentang identitas, ekspresi, dan kemanusiaan yang setara.

Di Prabumulih, Bawaslu membaca momentum ini lebih jauh: tari adalah metafora paling jujur tentang bagaimana demokrasi seharusnya bekerja.

Dalam setiap gerak tari, tidak ada keseragaman yang dipaksakan. Yang ada justru perbedaan yang dirangkai menjadi harmoni. Demokrasi pun demikian. Ia tidak dibangun dari suara yang sama, melainkan dari keragaman yang dikelola dengan kesadaran dan kedewasaan.

Ketua Bawaslu Prabumulih menegaskan, demokrasi yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar prosedur. Ia membutuhkan etika, kesadaran kolektif, dan partisipasi yang hidup. “Tari mengajarkan kita satu hal penting: keteraturan tidak selalu lahir dari keseragaman, tetapi dari kemampuan memahami perbedaan,” ujarnya.

Indonesia, dengan keragaman budaya yang nyaris tak tertandingi, sejatinya telah lama “menari” dalam bingkai kebangsaan. Dari ragam gerak tradisi hingga ekspresi kontemporer, setiap daerah menghadirkan identitasnya tanpa harus meniadakan yang lain. Inilah wajah demokrasi yang sesungguhnya—plural, terbuka, dan terus bergerak.

Namun, demokrasi tidak selalu seindah panggung tari. Ia kerap diganggu oleh disinformasi, polarisasi, hingga praktik-praktik yang mencederai integritas. Di titik inilah, nilai-nilai yang hidup dalam seni menjadi relevan: disiplin, keseimbangan, dan tanggung jawab terhadap ruang bersama.

Bawaslu Prabumulih menilai, pendekatan kultural seperti seni tari dapat menjadi jembatan yang efektif dalam membangun kesadaran publik. Demokrasi tidak cukup dijaga melalui regulasi, tetapi juga melalui nilai yang dipahami dan dihidupi masyarakat.

Hari Tari Sedunia 2026 bukan sekadar perayaan estetika. Ia adalah pengingat bahwa demokrasi, seperti tari, menuntut keterlibatan semua pihak. Tidak ada gerak yang berdiri sendiri. Tidak ada harmoni tanpa partisipasi.

Pada akhirnya, yang dijaga bukan hanya proses, tetapi juga makna. Dan seperti tari yang indah karena perbedaan geraknya, demokrasi akan kuat justru karena keberagamannya—selama kita bersedia menjaganya bersama.

fr