Lompat ke isi utama

Berita

Hari Sumpah Pemuda ke-98, Bawaslu Prabumulih Angkat Makna Patriotik, Gigih, dan Berempati bagi Masa Depan Indonesia

Bagi Bawaslu Kota Prabumulih, peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk turut merawat nilai kebangsaan melalui lingkungan kerja dan pelayanan publik. Semangat patriotik dapat diwujudkan dengan bekerja dan mengabdi secara bertanggung jawab; kegigihan tercermin dalam konsistensi menjalankan tugas; sedangkan empati hadir melalui sikap menghormati masyarakat dengan beragam latar belakang dan kebutuhan.

Bagi Bawaslu Kota Prabumulih, peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk turut merawat nilai kebangsaan melalui lingkungan kerja dan pelayanan publik. Semangat patriotik dapat diwujudkan dengan bekerja dan mengabdi secara bertanggung jawab; kegigihan tercermin dalam konsistensi menjalankan tugas; sedangkan empati hadir melalui sikap menghormati masyarakat dengan beragam latar belakang dan kebutuhan. 

Hari Sumpah Pemuda ke-98, Bawaslu Prabumulih Angkat Makna Patriotik, Gigih, dan Berempati bagi Masa Depan Indonesia


Prabumulih, 28 Oktober 2026

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Prabumulih memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 melalui upacara bendera di kantor Bawaslu Kota Prabumulih, Rabu (28/10/2026). Upacara tersebut dihadiri Ketua Bawaslu Kota Prabumulih Afan Sira Oktrisma, Anggota Bawaslu Kota Prabumulih Lia Siska Indriani, serta Koordinator Sekretariat Adi Satria. Peringatan tahun ini mengusung tema nasional “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, yang mengandung pesan tentang pentingnya membentuk generasi muda dengan kecintaan terhadap tanah air, daya juang menghadapi tantangan, serta kepedulian terhadap sesama. Tema tersebut tidak sekadar mengajak pemuda mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga mendorong mereka menerjemahkan nilai-nilai kebangsaan ke dalam sikap, pilihan, dan tindakan nyata di tengah perubahan zaman.

Pelaksanaan upacara mengacu pada pedoman peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 melalui Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 23144/B/A/TU.02.03/2026 tanggal 25 Oktober 2026, sebagai tindak lanjut Surat Edaran Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 10.14.19 Tahun 2026. Pedoman tersebut menetapkan pelaksanaan upacara di daerah pada 28 Oktober 2026 pukul 08.00 waktu setempat secara khidmat dan sederhana. Rangkaian upacara dalam pedoman nasional mencakup pengibaran bendera Merah Putih, mengheningkan cipta, pembacaan Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta pembacaan Keputusan Kongres Pemuda Indonesia 1928. Momentum ini menjadi pengingat bahwa semangat kebangsaan tidak berhenti pada penghormatan terhadap simbol negara, tetapi perlu diwujudkan melalui pembentukan karakter generasi yang mampu memberikan sumbangsih bagi kemajuan Indonesia.

Secara historis, Hari Sumpah Pemuda berakar pada Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta. Kongres tersebut mempertemukan para pemuda dari beragam organisasi dan latar belakang daerah untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya persatuan nasional. Melalui ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda, mereka menyatakan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia. Di tengah situasi penjajahan dan perbedaan identitas kedaerahan, para pemuda menunjukkan keberanian untuk melampaui kepentingan kelompok demi cita-cita bersama. Semangat itulah yang menjadikan Sumpah Pemuda sebagai tonggak penting perjalanan bangsa sekaligus warisan nilai yang tetap relevan bagi generasi masa kini.

Kata patriotik dalam tema tahun ini menegaskan bahwa kecintaan terhadap tanah air perlu diwujudkan melalui tindakan yang membawa manfaat bagi bangsa. Patriotisme bukan hanya ditunjukkan dengan mengibarkan bendera, mengikuti upacara, atau mengucapkan semboyan kebangsaan, tetapi juga melalui kesediaan belajar, berkarya, menjaga lingkungan, menghormati keberagaman, dan berkontribusi sesuai kemampuan. Di era globalisasi, pemuda Indonesia memiliki kesempatan luas untuk bersaing dan berkolaborasi di tingkat internasional. Mereka dapat menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni, olahraga, dan berbagai bidang profesional tanpa kehilangan jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Patriotisme yang relevan dengan zaman adalah kemampuan untuk terbuka terhadap kemajuan dunia sekaligus menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menjawab kebutuhan masyarakat serta membawa nama baik Indonesia.

Sementara itu, karakter gigih menekankan daya juang, ketekunan, dan keberanian untuk terus berkembang ketika menghadapi kesulitan. Pemuda masa kini berhadapan dengan persaingan pendidikan dan pekerjaan, perubahan teknologi yang berlangsung cepat, ketidakpastian ekonomi, serta tuntutan untuk terus meningkatkan keterampilan. Perkembangan media sosial juga menghadirkan tekanan tersendiri, terutama ketika keberhasilan sering kali diukur melalui popularitas, penampilan, atau pencapaian orang lain. Dalam situasi seperti ini, kegigihan berarti mampu menetapkan tujuan, konsisten belajar, berani memperbaiki kesalahan, dan tidak mudah menyerah ketika hasil yang diharapkan belum tercapai. Kegigihan bukan berarti mengabaikan keterbatasan atau memaksakan diri tanpa pertimbangan, melainkan memiliki ketahanan untuk mencari jalan keluar, beradaptasi, dan bangkit dengan pembelajaran yang lebih baik.

Adapun berempati mengingatkan bahwa kemajuan tidak seharusnya membuat pemuda hanya berorientasi pada pencapaian pribadi. Empati adalah kemampuan memahami keadaan dan perasaan orang lain, menghargai perbedaan pengalaman, serta menunjukkan kepedulian melalui tindakan. Dalam masyarakat yang beragam, empati dibutuhkan untuk membangun hubungan antargenerasi, memperkuat solidaritas sosial, menghormati penyandang disabilitas, dan menghindari sikap diskriminatif terhadap orang yang memiliki latar belakang berbeda. Di ruang digital, empati juga berarti tidak mudah menghakimi, tidak ikut menyebarkan perundungan atau penghinaan, serta mempertimbangkan dampak suatu unggahan terhadap orang lain. Pemuda yang berempati tidak hanya bertanya tentang apa yang dapat diperoleh bagi dirinya sendiri, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana kemampuan dan keberhasilannya dapat membantu orang lain.

Ketiga nilai tersebut saling melengkapi dan membentuk gambaran pemuda yang dibutuhkan Indonesia. Patriotisme memberikan arah pengabdian, kegigihan menjadi tenaga untuk terus melangkah, sedangkan empati menjaga agar perjuangan tetap berpihak pada nilai kemanusiaan. Tanpa patriotisme, kemampuan yang dimiliki pemuda dapat kehilangan orientasi terhadap kepentingan bangsa. Tanpa kegigihan, cita-cita besar mudah berhenti sebagai wacana. Sementara tanpa empati, keberhasilan berisiko hanya dinikmati oleh sebagian orang dan mengabaikan mereka yang membutuhkan dukungan. Tantangan global saat ini tidak cukup dijawab dengan kecerdasan dan penguasaan teknologi semata, tetapi juga membutuhkan karakter yang kuat, kemampuan bekerja sama, serta kesediaan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.

Bagi Bawaslu Kota Prabumulih, peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk turut merawat nilai kebangsaan melalui lingkungan kerja dan pelayanan publik. Semangat patriotik dapat diwujudkan dengan bekerja dan mengabdi secara bertanggung jawab; kegigihan tercermin dalam konsistensi menjalankan tugas; sedangkan empati hadir melalui sikap menghormati masyarakat dengan beragam latar belakang dan kebutuhan. Nilai-nilai tersebut juga dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat secara dewasa, kritis, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi agenda tahunan, melainkan kesempatan untuk merefleksikan karakter apa yang perlu diperkuat agar generasi muda mampu menghadapi perubahan dan ikut menentukan masa depan bangsa.

Hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, pesan persatuan itu tetap menemukan maknanya dalam tantangan yang terus berubah. Pemuda Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi atau pengikut perkembangan global, tetapi juga menjadi pencipta gagasan, penggerak perubahan, dan bagian dari solusi atas persoalan di sekitarnya. Melalui semangat “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, generasi muda diajak mencintai bangsanya melalui karya, menghadapi kesulitan dengan ketekunan, dan membangun masa depan dengan kepedulian terhadap sesama. Inilah wujud pengamalan nilai Sumpah Pemuda yang melampaui seremoni: membangun manusia Indonesia yang berdaya, tangguh, dan tetap menjunjung tinggi kemanusiaan demi kemajuan bersama.

 

fr