Hari Radio Nasional, Menjaga Informasi yang Akurat di Tengah Arus Digital
|
Hari Radio Nasional, Menjaga Informasi yang Akurat di Tengah Arus Digital
Prabumulih. 11/9/2026 — Sebelum masyarakat mengenal internet, media sosial, dan berbagai platform digital seperti sekarang, radio pernah menjadi salah satu sarana komunikasi tercepat yang menghubungkan pemerintah dengan rakyat. Dari ruang-ruang siaran, informasi mengenai perkembangan bangsa disampaikan kepada masyarakat yang berada di berbagai wilayah.
Peran tersebut menjadi bagian penting dari sejarah Radio Republik Indonesia (RRI) yang berdiri pada 11 September 1945, hanya beberapa pekan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.Kelahiran RRI tidak dapat dilepaskan dari situasi Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Radio memiliki posisi strategis sebagai sarana menyampaikan informasi, menghubungkan pemerintah dengan masyarakat, sekaligus membangun semangat persatuan di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Karena itu, peringatan Hari Radio setiap 11 September bukan hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang dunia penyiaran radio di Indonesia, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali pentingnya informasi yang benar bagi kehidupan masyarakat dan negara.
Radio dan Perjalanan Awal Republik
Sejarah RRI bermula dari pertemuan para tokoh radio pada September 1945. Dalam pertemuan tersebut, para perwakilan stasiun radio dari sejumlah kota membahas gagasan pembentukan organisasi radio nasional yang dapat menjadi bagian dari perjuangan Republik Indonesia.
Pertemuan itu kemudian menetapkan 11 September sebagai hari berdirinya RRI dan dr. Abdulrachman Saleh sebagai pemimpin umum pertama. Sejumlah studio radio di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang kemudian menjadi bagian dari jaringan awal RRI.
Pada masa itu, radio tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian berita. Radio menjadi sarana komunikasi antara pemerintah dan rakyat serta membantu menyebarluaskan semangat kemerdekaan.Monumen Pers Nasional mencatat bahwa radio memiliki peranan penting dalam menyebarluaskan berita Proklamasi Kemerdekaan dan kemudian digunakan sebagai salah satu sarana perjuangan bangsa pada masa mempertahankan kemerdekaan.
Perjalanan tersebut memperlihatkan satu hal penting: informasi memiliki kekuatan besar dalam membentuk pemahaman masyarakat dan menjaga persatuan.
Dari Gelombang Radio ke Layar Ponsel
Teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Jika dahulu masyarakat harus menunggu siaran radio untuk memperoleh kabar terbaru, kini informasi dapat diterima hanya dalam hitungan detik melalui telepon pintar. Berita, foto, video, maupun komentar dapat beredar luas tanpa mengenal batas wilayah.
Perubahan tersebut membawa banyak manfaat. Informasi menjadi lebih mudah diperoleh dan masyarakat memiliki lebih banyak pilihan sumber berita. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru.
Tidak semua informasi yang beredar di ruang digital merupakan informasi yang benar. Berita palsu, potongan video tanpa konteks, judul yang menyesatkan, akun palsu, hingga informasi yang sengaja dibuat untuk memengaruhi opini publik dapat beredar dengan cepat. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat tidak cukup hanya menjadi pengguna informasi. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa, membandingkan, dan menilai informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Informasi yang Benar Menjadi Bagian dari Demokrasi
Informasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan demokrasi. Masyarakat membutuhkan informasi yang benar agar dapat memahami berbagai persoalan publik dan menentukan sikap secara rasional. Dalam kehidupan demokrasi, keputusan masyarakat idealnya tidak dibangun berdasarkan informasi yang menyesatkan atau sengaja dimanipulasi.
Hal tersebut semakin penting ketika masyarakat memasuki momentum pemilu. Informasi mengenai peserta pemilu, program, tahapan, aturan, hak pemilih, serta berbagai persoalan kepemiluan dapat memengaruhi pilihan masyarakat. Apabila informasi yang beredar tidak benar, ruang publik dapat dipenuhi persepsi yang keliru dan pada akhirnya memengaruhi kualitas partisipasi masyarakat.
Karena itu, menjaga kualitas informasi bukan hanya menjadi tanggung jawab media dan lembaga pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting sebagai pengguna sekaligus penyebar informasi. Sebelum membagikan sebuah informasi, masyarakat dapat membiasakan diri memeriksa sumbernya, membaca informasi secara utuh, melihat tanggal dan konteks pemberitaan, serta membandingkannya dengan sumber resmi atau media yang kredibel. Kebiasaan sederhana tersebut merupakan bagian dari literasi digital.
Media dan Tanggung Jawab Publik
Perkembangan teknologi juga tidak menghilangkan peran media konvensional. Justru, media dituntut semakin mampu beradaptasi dengan perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi. RRI sendiri terus melakukan transformasi untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan digital. Dalam peringatan HUT ke-80 pada 2025, RRI menekankan pentingnya transformasi agar tetap relevan bagi publik, dengan tetap mempertahankan siaran radio sebagai jati diri lembaga.
Transformasi tersebut menunjukkan bahwa perubahan teknologi tidak harus menghilangkan identitas media. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan informasi dan memberikan pelayanan publik yang lebih baik. RRI juga memiliki posisi penting sebagai lembaga penyiaran publik. Dalam menjalankan fungsi tersebut, kualitas informasi, profesionalisme, serta kepentingan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab penyiaran.
Nilai tersebut juga relevan dengan berbagai lembaga publik lainnya. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai kebijakan, program, maupun layanan pemerintah. Keterbukaan informasi menjadi salah satu unsur penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara.
Pengawasan Pemilu Membutuhkan Informasi yang Sehat
Dalam konteks pengawasan pemilu, informasi memiliki posisi yang sangat strategis. Bawaslu membutuhkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengawasi berbagai potensi pelanggaran. Namun, partisipasi tersebut akan lebih efektif apabila masyarakat memiliki informasi yang benar mengenai aturan, tahapan pemilu, bentuk-bentuk pelanggaran, serta mekanisme penyampaian laporan.
Sebaliknya, informasi yang keliru dapat menimbulkan kesalahpahaman dan bahkan memicu keresahan. Karena itu, penyampaian informasi kepemiluan yang akurat menjadi bagian penting dari penguatan pengawasan partisipatif. Bawaslu Kota Prabumulih memiliki tanggung jawab untuk terus menyampaikan informasi mengenai pengawasan pemilu kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi yang tersedia. Website dan media sosial dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Namun, komunikasi publik tidak berhenti pada seberapa banyak informasi yang disampaikan. Yang tidak kalah penting adalah apakah informasi tersebut dapat dipahami, dipercaya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Jangan Biarkan Informasi Menjadi Alat Memecah Persatuan
Sejarah radio Indonesia memberikan pelajaran bahwa informasi dapat digunakan untuk menyatukan masyarakat dalam menghadapi tantangan bangsa. Di era digital, tantangannya memang berbeda. Tidak ada lagi keterbatasan frekuensi seperti pada masa awal radio, tetapi masyarakat menghadapi banjir informasi yang datang dari berbagai arah.
Dalam kondisi seperti itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang dapat dipercaya dan informasi yang patut diragukan.Terlebih ketika informasi tersebut berkaitan dengan politik dan pemilu. Perbedaan pilihan merupakan bagian yang wajar dalam demokrasi, tetapi perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk menyebarkan fitnah, kebencian, atau informasi palsu terhadap pihak lain.
Demokrasi membutuhkan ruang perdebatan yang sehat. Kritik boleh disampaikan, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, tetapi semuanya harus dibangun berdasarkan fakta dan tetap menghormati hukum serta martabat sesama warga negara. Delapan dekade perjalanan RRI menunjukkan bahwa teknologi komunikasi dapat berubah, tetapi kebutuhan manusia terhadap informasi yang benar tidak pernah hilang. [fr]
fr