Lompat ke isi utama

Berita

Hari Palang Merah Indonesia, Merawat Kemanusiaan dan Menguatkan Solidaritas Bangsa

Hari Palang Merah Indonesia, Merawat Kemanusiaan dan Menguatkan Solidaritas Bangsa

Prabumulih — Tanggal 3 September menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah kemanusiaan di Indonesia. Pada tanggal tersebut, tepat 17 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Soekarno memerintahkan Menteri Kesehatan saat itu, dr. Buntaran Martoatmodjo, untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional.

Perintah tersebut menjadi salah satu tonggak awal perjalanan Palang Merah Indonesia (PMI), organisasi kemanusiaan yang hingga kini terus hadir dalam berbagai situasi, mulai dari pelayanan kesehatan, donor darah, penanganan bencana hingga bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Peringatan Hari Palang Merah Indonesia setiap 3 September karena itu tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah pembentukan organisasi kemanusiaan nasional, tetapi juga menjadi pengingat mengenai pentingnya kepedulian, kesukarelaan, dan solidaritas dalam kehidupan masyarakat.

Berawal Setelah Kemerdekaan

Gagasan mengenai pembentukan organisasi Palang Merah nasional sebenarnya telah muncul jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada 1932, dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan menggagas pendirian Palang Merah Indonesia. Upaya tersebut kemudian kembali diperjuangkan melalui Konferensi NERKAI pada 1940, tetapi belum memperoleh persetujuan. Pada masa pendudukan Jepang, upaya membentuk Badan Palang Merah Nasional kembali dilakukan, namun kembali mengalami hambatan.

Momentum itu akhirnya hadir setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Pada 3 September 1945, Presiden Soekarno memberikan perintah kepada Menteri Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional. Dua hari kemudian, pada 5 September 1945, dibentuk Panitia Lima yang bertugas mempersiapkan pembentukan organisasi Palang Merah Indonesia.

Rangkaian persiapan tersebut kemudian berujung pada terbentuknya Perhimpunan Palang Merah Indonesia pada 17 September 1945 dengan Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua pertama. Dengan demikian, September memiliki dua momentum penting dalam sejarah PMI, yakni 3 September sebagai momentum perintah pembentukan Badan Palang Merah Nasional dan 17 September sebagai tanggal berdirinya PMI.

Kemanusiaan Melampaui Perbedaan

Sejak awal berdirinya, PMI telah menempatkan kemanusiaan sebagai dasar pengabdiannya. Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, PMI turut memberikan bantuan kepada korban perang dan membantu proses pemulangan tawanan perang.

Dalam perkembangannya, tugas kemanusiaan PMI semakin luas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan, kegiatan kepalangmerahan mencakup antara lain bantuan kepada korban konflik dan bencana, pelayanan darah, pengembangan relawan, pendidikan dan pelatihan kepalangmerahan, pelayanan kesehatan dan sosial, serta kegiatan kemanusiaan lainnya.

Nilai yang terkandung di dalamnya sangat sederhana, tetapi fundamental: menolong sesama tanpa membedakan latar belakang.

Dalam situasi bencana, misalnya, bantuan diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa terlebih dahulu mempertanyakan pilihan politik, latar belakang sosial, suku, agama maupun identitas lainnya. Semangat tersebut menunjukkan bahwa kemanusiaan memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada sekadar perbedaan yang ada di tengah masyarakat.

Solidaritas sebagai Kekuatan Masyarakat

Kehadiran relawan menjadi salah satu kekuatan penting dalam kerja-kerja kemanusiaan. Relawan hadir bukan semata-mata karena kewajiban, melainkan karena adanya kesadaran untuk membantu orang lain.

Semangat kerelawanan tersebut memiliki relevansi dengan kehidupan bermasyarakat dan demokrasi. Demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan aturan dan institusi, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Masyarakat yang terbiasa saling membantu, menghargai perbedaan, serta mengutamakan kepentingan bersama akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan demokrasi.

Dalam konteks kepemiluan, semangat yang sama juga dapat diwujudkan melalui partisipasi masyarakat dalam mengawal proses demokrasi. Masyarakat tidak harus menunggu menjadi bagian dari lembaga tertentu untuk mengambil peran. Menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab, menolak politik uang, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta melaporkan dugaan pelanggaran pemilu merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas demokrasi.

Kemanusiaan dan Demokrasi Memiliki Nilai yang Sama

Demokrasi pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang pemungutan suara. Di dalamnya terdapat penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, kebebasan menyampaikan pendapat, serta kesempatan bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik.

Karena itu, nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi landasan gerakan Palang Merah juga dapat menjadi refleksi bagi kehidupan demokrasi. Perbedaan pilihan tidak seharusnya menghilangkan rasa saling menghormati sebagai sesama warga negara.

Pemilu dapat menghadirkan pilihan politik yang berbeda. Namun, setelah pilihan diberikan, masyarakat tetap memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan, ketertiban, dan kehidupan sosial yang harmonis.

Bagi Bawaslu Kota Prabumulih, semangat tersebut sejalan dengan upaya membangun kesadaran masyarakat agar turut mengambil bagian dalam pengawasan pemilu. Pengawasan partisipatif membutuhkan masyarakat yang tidak hanya mengetahui hak dan kewajibannya, tetapi juga memiliki kepedulian untuk menjaga proses demokrasi tetap berjalan sesuai ketentuan.

Peringatan Hari Palang Merah Indonesia menjadi pengingat bahwa kepedulian kepada sesama dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Semangat membantu, kesediaan menjadi relawan, keberanian melakukan hal yang benar, serta kepedulian terhadap lingkungan merupakan nilai yang dibutuhkan tidak hanya dalam kegiatan kemanusiaan, tetapi juga dalam membangun kehidupan demokrasi.

Pada akhirnya, sejarah PMI mengajarkan bahwa sebuah organisasi dapat tumbuh dari kesadaran untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dari semangat tersebut, kemanusiaan terus dirawat melalui kerja nyata dan keterlibatan banyak orang.

Momentum Hari Palang Merah Indonesia 2026 diharapkan menjadi ruang refleksi bagi seluruh masyarakat untuk terus menumbuhkan solidaritas, memperkuat kepedulian, dan menjaga semangat gotong royong. Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh institusi yang kokoh, tetapi juga oleh masyarakat yang bersedia hadir dan membantu ketika sesama membutuhkan.