Lompat ke isi utama

Berita

Dharma Wanita Nasional: Ketika Pengabdian Perempuan Menjadi Bagian dari Merawat Bangsa dan Demokrasi

Hari Dharma Wanita Nasional pada akhirnya bukan sekadar tentang sebuah organisasi dan bukan pula sekadar peringatan tahunan. Ia adalah momentum untuk melihat kembali bagaimana perempuan dapat terus mengambil bagian dalam perjalanan bangsa. Dharma Wanita telah melewati perjalanan panjang sejak 1974. Perubahan dari Dharma Wanita menuju Dharma Wanita Persatuan pada era Reformasi menunjukkan bahwa organisasi juga harus mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Dharma Wanita Nasional: Ketika Pengabdian Perempuan Menjadi Bagian dari Merawat Bangsa dan Demokrasi

Prabumulih, 5/8/2026

Ada banyak cara untuk membangun sebuah bangsa. Sebagian dilakukan melalui kebijakan dan keputusan besar di ruang-ruang pemerintahan. Sebagian lainnya berlangsung jauh lebih sunyi, di ruang keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, dan berbagai ruang pengabdian yang tidak selalu terlihat. Di ruang-ruang itulah perempuan memainkan peran penting.

Seorang ibu yang mengajarkan anaknya berkata jujur. Seorang perempuan yang mendampingi keluarganya menghadapi perubahan zaman. Seorang anggota organisasi yang menggerakkan kegiatan sosial. Seorang perempuan yang belajar mengembangkan keterampilan agar keluarganya lebih mandiri. Atau mereka yang terlibat dalam pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan kegiatan kemasyarakatan.

Semua itu mungkin terlihat sederhana. Namun, dari tindakan-tindakan sederhana semacam itulah kualitas sebuah keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dibangun.

Setiap 5 Agustus, Indonesia memperingati Hari Dharma Wanita Nasional. Tanggal tersebut bukan dipilih tanpa alasan. Hari Dharma Wanita Nasional berakar pada sejarah berdirinya organisasi Dharma Wanita pada 5 Agustus 1974. Sementara itu, Dharma Wanita Persatuan sebagai organisasi yang lahir melalui transformasi pada era Reformasi memperingati hari jadinya setiap 7 Desember.

Momentum 5 Agustus karena itu tidak semestinya berhenti sebagai ucapan seremonial. Ia dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panjang perempuan Indonesia sekaligus bertanya: sejauh mana perempuan dapat terus mengambil bagian dalam membangun keluarga, masyarakat, dan kehidupan berbangsa yang semakin demokratis?

Perjalanan Dharma Wanita merupakan bagian dari sejarah organisasi perempuan di Indonesia.

Dharma Wanita dibentuk pada 5 Agustus 1974 pada masa pemerintahan Orde Baru. Organisasi tersebut didirikan oleh Ketua Dewan Pembina KORPRI saat itu, Amir Machmud, atas prakarsa Ibu Tien Soeharto. Pada masa awal pembentukannya, keanggotaan Dharma Wanita mencakup istri Pegawai Republik Indonesia, anggota ABRI yang dikaryakan, serta pegawai BUMN.

Namun, perubahan politik dan sosial pada era Reformasi turut membawa perubahan mendasar terhadap organisasi tersebut. Dharma Wanita kemudian bertransformasi menjadi organisasi sosial kemasyarakatan yang bersifat independen, demokratis, dan nonpolitik. Dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa pada 6–7 Desember 1999, perubahan tersebut dikukuhkan dan nama organisasi menjadi Dharma Wanita Persatuan.

Transformasi tersebut penting dicatat karena menunjukkan bahwa organisasi masyarakat pun perlu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Dharma Wanita Persatuan kini menempatkan pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya sebagai bidang utama kegiatannya. Visi organisasi juga menekankan profesionalisme perempuan dalam memperkuat peran serta perempuan dalam pembangunan bangsa.

Dengan demikian, perjalanan Dharma Wanita Persatuan bukan hanya cerita tentang perubahan nama organisasi. Di dalamnya terdapat proses panjang untuk menyesuaikan peran perempuan dengan tuntutan masyarakat yang terus berkembang.

Perempuan dan Keluarga: Membangun Bangsa dari Rumah

Berbicara mengenai kontribusi perempuan sering kali membawa kita kepada ruang publik. Padahal, ada satu ruang yang tidak kalah strategis: keluarga.

Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seorang anak belajar mengenal nilai. Di sanalah seorang anak pertama kali mengenal kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, toleransi, dan cara menghargai orang lain.

Nilai-nilai tersebut kelak menjadi bagian dari karakter ketika anak tumbuh menjadi anggota masyarakat.

Karena itu, membangun keluarga yang sehat secara sosial dan emosional sesungguhnya merupakan bagian dari membangun kualitas bangsa.

Dalam konteks ini, peran perempuan tidak seharusnya dilihat secara sempit hanya sebagai pendamping suami. Perempuan memiliki kapasitas sebagai pendidik, penggerak, pengelola, pekerja, pelaku usaha, anggota masyarakat, dan berbagai peran lain yang memberikan kontribusi nyata.

Dharma Wanita Persatuan sendiri menempatkan penguatan sumber daya manusia, kesejahteraan keluarga, pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya sebagai bagian penting dari kiprahnya.

Keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang lebih tangguh. Masyarakat yang tangguh pada akhirnya menjadi fondasi bagi negara yang kuat.

Dari Ketahanan Keluarga Menuju Ketahanan Bangsa

Tantangan kehidupan keluarga hari ini berbeda dengan beberapa dekade lalu. Keluarga tidak hanya berhadapan dengan persoalan ekonomi atau pendidikan. Mereka juga menghadapi derasnya arus informasi digital, perubahan pola komunikasi, tekanan sosial, hingga tantangan dalam mendidik anak di tengah banjir informasi.

Anak-anak dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber hanya dengan satu sentuhan layar. Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang besar bagi pendidikan. Di sisi lain, tanpa pendampingan yang memadai, ruang digital juga dapat menjadi pintu masuk hoaks, ujaran kebencian, kekerasan digital, serta berbagai informasi yang tidak sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.

Karena itu, perempuan dan keluarga membutuhkan kapasitas baru: bukan hanya kemampuan mengelola rumah tangga, tetapi juga kecakapan menghadapi perubahan zaman.

Literasi digital, literasi finansial, pendidikan karakter, kesehatan keluarga, hingga kemampuan berkomunikasi dengan anak menjadi semakin penting. Dalam konteks inilah pemberdayaan perempuan tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Perempuan dan Ekonomi: Dari Keluarga yang Bertahan Menjadi Keluarga yang Berdaya

Perempuan memiliki potensi besar dalam membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui keterampilan, kewirausahaan, pengelolaan keuangan, maupun berbagai kegiatan produktif lainnya.

Dharma Wanita Persatuan menempatkan bidang ekonomi sebagai salah satu dari tiga bidang utama program organisasi, selain pendidikan dan sosial budaya. Pengembangan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi keluarga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan. Namun, pemberdayaan ekonomi perempuan sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai upaya menambah pendapatan keluarga.

Lebih jauh dari itu, pemberdayaan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk meningkatkan kapasitas, kepercayaan diri, kemampuan mengambil keputusan, dan kemandirian. Perempuan yang berdaya bukan hanya membantu keluarganya bertahan menghadapi perubahan. Ia juga memiliki kesempatan lebih besar untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial di sekitarnya.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Demokrasi?

Apa hubungan antara Dharma Wanita, keluarga, dan demokrasi?Jawabannya mungkin lebih dekat daripada yang kita bayangkan.Demokrasi pada dasarnya bukan hanya persoalan pemilu, partai politik, atau lembaga negara. Demokrasi juga berkaitan dengan budaya masyarakat dalam menghargai manusia lain.

Ketika seorang anak dibiasakan mendengar pendapat orang lain, belajar bermusyawarah, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan persoalan melalui dialog, sesungguhnya nilai-nilai demokrasi sedang ditanamkan.

Demokrasi bahkan dapat dimulai dari meja makan. Di sana, seorang anak belajar bahwa pendapatnya didengar. Ia juga belajar bahwa pendapat orang lain mungkin berbeda. Ia belajar bahwa perbedaan tidak selalu berarti permusuhan. Nilai sederhana semacam itu kelak menjadi bekal ketika ia tumbuh sebagai warga negara. Karena itu, keluarga dapat disebut sebagai salah satu ruang awal pendidikan demokrasi.

Perempuan sebagai Penjaga Nilai Integritas

Dalam kehidupan demokrasi dan kepemiluan, integritas menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar. Kejujuran, tanggung jawab, keberanian menolak kecurangan, dan kesediaan menghormati aturan merupakan nilai yang harus ditanamkan sejak dini. Di sinilah keluarga memiliki peran strategis.

Anak yang dibiasakan berkata benar meskipun menghadapi konsekuensi sedang belajar tentang integritas. Anak yang diajarkan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya sedang belajar tentang kejujuran.

Anak yang dibiasakan menghormati teman yang berbeda pilihan sedang belajar tentang toleransi.

Nilai-nilai tersebut mungkin tidak langsung berbicara tentang pemilu. Namun ketika anak itu kelak menjadi pemilih, pemimpin, penyelenggara negara, atau bagian dari masyarakat sipil, nilai yang telah ditanamkan sejak kecil akan memengaruhi cara ia mengambil keputusan. Karena itu, pendidikan demokrasi sesungguhnya tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas atau forum resmi. Ia dapat dimulai dari rumah.

Tantangan Dharma Wanita Persatuan di Masa Depan

Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru bagi Dharma Wanita Persatuan. Organisasi tidak cukup hanya mempertahankan kegiatan yang telah berjalan selama puluhan tahun. Ia juga perlu terus membaca kebutuhan masyarakat dan perkembangan generasi baru.

Tantangan pertama adalah transformasi digital.

Perempuan perlu memiliki kecakapan untuk menggunakan teknologi secara produktif sekaligus aman. Penguasaan teknologi dapat membuka akses terhadap pendidikan, ekonomi, informasi, dan jejaring sosial yang lebih luas.

Tantangan kedua adalah penguatan kualitas sumber daya manusia.

Perubahan dunia kerja menuntut keterampilan baru. Karena itu, peningkatan pengetahuan, kepemimpinan, komunikasi, kewirausahaan, dan kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting.

Tantangan ketiga adalah menjaga ketahanan keluarga di tengah perubahan sosial.

Keluarga membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar seperti gotong royong, kepedulian, kejujuran, dan penghormatan terhadap sesama.

Tantangan keempat adalah memperluas kontribusi perempuan di ruang publik.

Perempuan tidak hanya perlu diberi ruang untuk berpartisipasi, tetapi juga kesempatan untuk berkembang, mengambil keputusan, memimpin, dan menyumbangkan gagasan.

Dharma Wanita Persatuan sendiri dalam berbagai kegiatan nasional menempatkan penguatan peran perempuan, keluarga, pendidikan, ekonomi, dan pembangunan sebagai bagian dari agenda organisasi.

Dari Keluarga, untuk Demokrasi yang Lebih Beradab

Di tengah pembicaraan mengenai demokrasi, kita sering terlalu fokus pada lembaga dan proses politik. Padahal, demokrasi juga membutuhkan fondasi sosial yang kuat.

Demokrasi membutuhkan manusia yang mampu menghargai manusia lain.

Ia membutuhkan warga yang tidak mudah membenci hanya karena berbeda pilihan. Ia membutuhkan masyarakat yang mampu berdialog tanpa merendahkan. Ia membutuhkan generasi yang terbiasa menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, bukan kekerasan.

Dan semua itu membutuhkan pendidikan karakter yang dimulai dari lingkungan terdekat. Karena itulah, peran perempuan dalam keluarga memiliki hubungan yang erat dengan masa depan demokrasi.

Bukan karena perempuan harus memikul seluruh tanggung jawab pendidikan keluarga seorang diri. Sebaliknya, pendidikan keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Namun, perempuan memiliki posisi strategis yang dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun lingkungan keluarga yang mendukung tumbuhnya karakter positif.

Refleksi: Perempuan, Keluarga, dan Masa Depan Indonesia

Hari Dharma Wanita Nasional pada akhirnya bukan sekadar tentang sebuah organisasi dan bukan pula sekadar peringatan tahunan. Ia adalah momentum untuk melihat kembali bagaimana perempuan dapat terus mengambil bagian dalam perjalanan bangsa. Dharma Wanita telah melewati perjalanan panjang sejak 1974. Perubahan dari Dharma Wanita menuju Dharma Wanita Persatuan pada era Reformasi menunjukkan bahwa organisasi juga harus mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Ke depan, tantangannya bukan hanya bagaimana mempertahankan eksistensi organisasi, tetapi bagaimana memastikan keberadaannya benar-benar memberikan manfaat. Perempuan perlu terus diberdayakan. Keluarga perlu diperkuat. Pendidikan karakter perlu ditanamkan. Literasi digital perlu ditingkatkan. Ruang partisipasi publik perlu dibuka semakin luas.

Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di gedung-gedung pemerintahan. Masa depan Indonesia juga sedang dibentuk di rumah-rumah, di sekolah, di lingkungan masyarakat, dan di ruang-ruang tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan.

Di sanalah perempuan memiliki peran yang tidak kecil. Dan ketika perempuan berdaya, keluarga kuat; ketika keluarga kuat, masyarakat lebih tangguh; ketika masyarakat tangguh, demokrasi memiliki fondasi yang lebih kokoh.

Selamat Hari Dharma Wanita Nasional 2026.

Semoga semangat pengabdian, pemberdayaan, kebersamaan, dan kepedulian perempuan terus menjadi bagian dari perjalanan Indonesia menuju bangsa yang semakin maju, berintegritas, demokratis, dan berkeadaban. [fr]

 

fr